Cemara Institute Puji Kepala BRIN Atas Komitmen Kolaborasi Riset dengan Jepang

Jakarta – Cemara Institute memberikan apresiasi kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia atas langkah strategisnya dalam memperkuat dan menjalin komitmen kolaborasi riset dengan Jepang. Langkah ini dinilai sebagai terobosan penting untuk mendorong kapasitas dan kualitas riset nasional.

Direktur Cemara Institute, Rizqi Fathul Hakim menyatakan bahwa peran aktif BRIN ini merupakan wujud nyata dari upaya sistematis untuk meningkatkan daya saing dan kapabilitas riset di Indonesia. “Kolaborasi riset Indonesia-Jepang yang difasilitasi BRIN ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah langkah strategis untuk membawa riset Indonesia ke level global,” ujarnya.

Komitmen penguatan kolaborasi itu semakin ditegaskan dengan kehadiran peraih Nobel Kimia 2025 dari Kyoto University, Prof. Susumu Kitagawa, dalam Kuliah Umum Internasional BRIN, Rabu (4/2/2026). Kehadiran ilmuwan terkemuka dunia ini memfokuskan kolaborasi pada pengembangan teknologi material maju, khususnya metal-organic frameworks (MOFs), untuk menjawab tantangan nasional.

Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi mengungkapkan bahwa kerja sama riset di bidang material maju dengan Jepang telah dirintis sejak 2023 melalui penandatanganan nota kesepahaman. “Kehadiran Prof. Susumu menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi riset jangka panjang,” jelas Ratno.

Ratno menambahkan, salah satu bentuk konkret dari penguatan ini adalah inisiasi pembentukan sister laboratory bersama Kyoto University. Wadah ini diharapkan menjadi pusat kolaborasi riset material dan nanoteknologi yang dibangun secara sistematis dan berkelanjutan, sehingga tidak hanya bersifat jangka pendek.

Rizqi Fathul Hakim juga melihat kolaborasi ini sebagai peluang emas untuk transfer pengetahuan dan teknologi. “Fokus pada material maju seperti MOFs, yang dipelopori peraih Nobel, membuka akses bagi peneliti Indonesia kepada frontier knowledge dan metodologi mutakhir,” paparnya.

Di sisi lain, Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa kolaborasi internasional juga diarahkan untuk pengembangan sumber daya manusia. BRIN telah menyiapkan berbagai program seperti insentif riset, magang, dan skema brain circulation yang melibatkan diaspora untuk mendukung pertumbuhan periset muda.

Prof. Arif mencontohkan, BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tengah mempersiapkan Sekolah Unggul Garuda sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang memiliki minat dan bakat di bidang riset. BRIN juga berkoordinasi menyiapkan ekosistem karir yang kondusif bagi lulusannya.

Menanggapi hal tersebut, Rizqi Fathul Hakim menekankan bahwa integrasi antara pendidikan, kolaborasi internasional, dan pembangunan ekosistem riset adalah kunci. “Inisiatif seperti sister lab dan Sekolah Garuda, jika berjalan sinergis, dapat menciptakan pipeline talenta riset yang tangguh dan berjejaring global,” katanya.

Arif Satria menutup dengan penegasan bahwa kolaborasi internasional, seperti Jepang adalah bagian integral dalam membangun ekosistem riset nasional yang berdaya saing global. Langkah ini diharapkan mempercepat terwujudnya Indonesia yang mandiri secara teknologi dan inovatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *