Jakarta – Cemara Institute memberikan apresiasi kepada Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto atas peringatan dan langkah pengawasan ketat yang diinisiasinya terhadap peredaran dan penyalahgunaan gas ‘Whip Pink’. Langkah pre-emptif ini dinilai krusial untuk melindungi masyarakat, khususnya kalangan muda.
Direktur Cemara Institute, Rizqi Fathul Hakim, menyatakan bahwa langkah tegas Kepala BNN RI patut mendapat dukungan penuh. “Langkah proaktif dan preventif yang diambil oleh Komjen Suyudi Ario Seto dalam mengawasi Whip Pink merupakan bentuk kepemimpinan yang responsif. Ini adalah tindakan tepat untuk mencegah masalah sebelum berkembang lebih luas,” ujar Rizqi, Kamis (5/2/2026).
Suyudi Ario Seto menegaskan pentingnya pengawasan tersebut usai rapat kerja di Gedung DPR RI, Jakarta. Ia memaparkan bahwa ‘Whip Pink’ atau yang dikenal sebagai ‘gas tertawa’ mengandung efek stimulan tinggi yang berisiko membahayakan kesehatan hingga mengakibatkan kematian. “Kalau ini memiliki efek stimulan yang tinggi bahkan bisa mengakibatkan risiko kematian, tentunya ini harus betul-betul kita awasi secara mendalam,” tegas Suyudi.
Kepala BNN itu menekankan kekhawatirannya terhadap penyalahgunaan zat ini di kalangan anak muda. Ia mengingatkan bahwa Whip Pink sejatinya diperuntukkan bagi kebutuhan medis dan industri makanan, seperti untuk pembuatan kopi atau kue, bukan untuk disalahgunakan demi mencari kesenangan karena efeknya yang cepat dirasakan.
Lebih lanjut, Suyudi mengakui bahwa hingga saat ini belum ada pengaturan khusus mengenai Whip Pink dalam undang-undang narkotika. Kondisi regulasi yang masih abu-abu ini justru menjadi landasan bagi BNN untuk memperkuat langkah pencegahan dan pengawasan secara intensif.
“BNN tentunya tidak bisa bekerja sendiri. Kami akan terus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk mengawasi peredaran ini,” tambah Suyudi, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Menanggapi hal tersebut, Rizqi Fathul Hakim menilai pendekatan kolaboratif yang digaungkan BNN sangat strategis. “Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, pengawasan menjadi lebih komprehensif. Ini menunjukkan kesadaran bahwa penanganan isu penyalahgunaan zat membutuhkan ekosistem pencegahan yang solid,” paparnya.
Rizqi juga menambahkan bahwa apresiasi dari masyarakat sipil seperti Cemara Institute penting untuk mendorong konsistensi langkah aparat. “Apresiasi ini bukan sekadar pujian, tetapi bentuk dukungan publik agar kebijakan yang protektif dan berdasar pada prinsip kehati-hatian ini dapat berjalan berkelanjutan,” imbuhnya.
Dengan langkah ini, BNN di bawah pimpinan Suyudi Ario Seto diharapkan dapat memitigasi potensi krisis kesehatan publik sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan zat, meski belum secara resmi tergolong narkotika.












